Faham “Tuhan” vs Faham “tuhan”
Ber-Islam pada dekade atau abad 21 atau 15 abad setelah agama ini lahir penuh dengan pilihan metode-metode, penafsiran masing-masing tentang islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai penutup nabi dalam agama samawi. Masing-masing metode dan penafsiran tersebut dinamakan faham. Adapun faham yang berkembang pesat dalam menterjemahkan ke-islaman sampai saat ini adalah mu’tazilah dan asy’ariah, jabariah dan qodariah, dan dalam bentuk faham/mazahab yang terkenal yaitu hambali, hanafi, safi’I, ja’fari, dan maliki. Paham-paham tersebut pada intinya jalan untuk menuju “kebenaran hakiki”, namun secara tidak sadar jama’ah-jamah dari masing-masing faham dan mazahab tersebut telah membatasi diri tentang ke-Islaman, ketauhidan kaum muslim, sehingga mengakibatkan antipasti golongan terhadap golongan lain, dan secara tidak sadar mereka menuhankan golongannya masing-masing.
Manusia yang dari fitrahnya membutuhkan sesuatu yang dapat dijadikan tumpuan atau keinginan menyucikan sesuatu, maka manusia memerlukan Tuhan sebagai tempat meminta, dan memohon. Alkisah eksperimen nabi ibrohim dalam pencariannya; ketika bintang, matahari bersinar terang menyinari angkasa akhirnya dia mengatakan, inilah tuhanku, tapi ketika benda tersebut tenggelam, dia mengatakan masak tuhan tenggelam; sehingga akhirnya Ibrohim mengatakan Inni wajjah tuwahia lilladzi fatarassama wa tiwal ard” artinya manusia itu membutuhkan tuhan dan tuhan itu adalah misteri yang tak terbatas.
Islam secara simbolis sudah sepakat menyatakan bahwa tuhannya adalah Allah. Hal ini ditegaskan dalam kalimat sahadatain yaitu “Asshadualla Illa haillah (shahadat tauhid), waashhaduannamuhammadarrasulullah (sahadat rasul). Konsekuensi logis dari kepercayaan tersebut adalah taqwa yaitu menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Upaya dalam merealisasikan manusia sejati maka disusun dan dirancanglah beberapa interpretasi dari syariat dalam menjalankan dan menjauhi larangan tuhan. Hal ini, tercermin dari beberapa mazhab yang muncul dalam dunia islam seperti mazhab ja’fari, mazhab hanafi, mazhab maliki, mazhab syafi’I, mazhab hambali. Mazhab-mazhab tersebut memberikan pemahaman tentang nilai kebenaran, namun tidak boleh merendahkan mazhab yang lain, jika merendahkan golongan-golongan lain dan memandang golongannya yang paling benar maka sebenarnya dia telah manuhankan golongannya. (ucok)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar