Senin, 26 Desember 2011

Pendidikan


THE IMPLEMENTATION OF PROJECT BASED-LEARNING TO IMPROVE STUDENTS’ CONCEPT MASTERY AND SCIENTIFIC PERFORMANCE AT LAB SENIOR HIGH SCHOOL
 UNDIKSHA ACADEMIC YEAR 2009/2010
By:
Lalu Usman Ali, NIM. 1129061012
Program Studi Sains PPs Undiksha, Singaraja

ABSTRAK
This study aims at (1) increasing students' concepts mastery, (2) improving scientific performance of students, and (3) describing the responses of students to the implemention of the model project based learning (PBL) in teaching physics. The subjects of this study were Lab high school Undiksha Singaraja students in grade X.3 on the second semester of the academic year 2009/2010. The number of the students were 38 students in which the number between male and female students were equal. The objects of this study were the concepts mastery, scientific performance, and student responses.
Data about students’ concepts mastery were analyzed descriptively then followed by data justification according to the guidelines of justification. The findings of this study show that (1) the average of students' concepts mastery increased, from 71.0 with  classical mastery 68.4% and standard deviation of 5.6 in cycle I became 76.1 with classical mastery 89.5% and standard deviation 6.3 in cycle II, (2) the average of students scientific performance increased from 70.0 with  standard deviation of 5.3 and the categories was quite active in cycle I became 74.9 with a standard deviation of 5.7 and active categories in the cycle II, and (3) student response to the implementation of the model project based learning (PBL) obtained a mean score of 59.8 with a standard deviation of 3.4 and categorized as positive. The results of data analysis show the implementation of the model project based learning (PBL) can enhance the mastery of scientific concepts and the performance of grade X.3 students in Laboratory senior high school Undiksha Singaraja academic year 2009/2010.

Key Words:
Project based learning (PBL), concepts mastery, scientific performance
Faham “Tuhan” vs Faham “tuhan”

Ber-Islam pada dekade atau abad 21 atau 15 abad setelah agama ini lahir penuh dengan pilihan metode-metode, penafsiran masing-masing tentang islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai penutup nabi dalam agama samawi. Masing-masing metode dan penafsiran tersebut dinamakan faham. Adapun faham yang berkembang pesat dalam menterjemahkan ke-islaman sampai saat ini adalah mu’tazilah dan asy’ariah, jabariah dan qodariah, dan dalam bentuk faham/mazahab yang terkenal yaitu hambali, hanafi, safi’I, ja’fari, dan maliki. Paham-paham tersebut pada intinya jalan untuk menuju “kebenaran hakiki”, namun secara tidak sadar jama’ah-jamah dari masing-masing faham dan mazahab tersebut telah membatasi diri tentang ke-Islaman, ketauhidan kaum muslim, sehingga mengakibatkan antipasti golongan terhadap golongan lain, dan secara tidak sadar mereka menuhankan golongannya masing-masing.
Manusia yang dari fitrahnya membutuhkan sesuatu yang dapat dijadikan tumpuan atau keinginan menyucikan sesuatu, maka manusia memerlukan Tuhan sebagai tempat meminta, dan memohon. Alkisah eksperimen nabi ibrohim dalam pencariannya; ketika bintang, matahari bersinar terang menyinari angkasa akhirnya dia mengatakan, inilah tuhanku, tapi ketika benda tersebut tenggelam, dia mengatakan masak tuhan tenggelam; sehingga akhirnya Ibrohim mengatakan Inni wajjah tuwahia lilladzi fatarassama wa tiwal ard” artinya manusia itu membutuhkan tuhan dan tuhan itu adalah misteri yang tak terbatas.
Islam secara simbolis sudah sepakat menyatakan bahwa tuhannya adalah Allah. Hal ini ditegaskan dalam kalimat sahadatain yaitu “Asshadualla Illa haillah (shahadat tauhid), waashhaduannamuhammadarrasulullah (sahadat rasul). Konsekuensi logis dari kepercayaan tersebut adalah taqwa yaitu menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Upaya dalam merealisasikan manusia sejati maka disusun dan dirancanglah beberapa interpretasi dari syariat dalam menjalankan dan menjauhi larangan tuhan. Hal ini, tercermin dari beberapa mazhab yang muncul dalam dunia islam seperti mazhab ja’fari, mazhab hanafi, mazhab maliki, mazhab syafi’I, mazhab hambali. Mazhab-mazhab tersebut memberikan pemahaman tentang nilai kebenaran, namun tidak boleh merendahkan mazhab yang lain, jika merendahkan golongan-golongan lain dan memandang golongannya yang paling benar maka sebenarnya dia telah manuhankan golongannya. (ucok)

Mahasiswa sebagai Pewaris Masa Depan

Mahasiswa adalah kaum intelektual yang memiliki visi, misi dan tujuan yang ideal dalam membangun bangsa, segala tingkah laku dan perbuatannya pun didasarkan pada kaidah ilmiah dan menggunakan akal pikiran yang jernih dan komprehensif, meskipun pada kenyataanya tidak semua mahasiswa seideal itu, namun itu semua menjadi tolak ukur dan pandangan ke depan agar seluruh mahasiswa di Indonesia menjadi calon pemimpin yang ideal yang akan memimpin bangsa ini dimasa yang akan datang.

Ketika masyarakat Indonesia dilanda gelombang globalisasi dan ekonomi disinilah peran serta mahasiswa dibutuhkan guna membangun dan menstabilkan stabilitas politik dan ekonomi dinegara ini, memang berat hal itu semua, namun seberat apapun batu yang menghadang didepan, setinggi apapun gunung yang akan didaki dan seluas apapun lautan yang akan diseberangi tapi itu semua tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuatan dan keberanian mahasiswa.

Masih terngiang dan teringat dipikiran dan hati kita bagaimana peran andil mahasiswa pada saat rezim orde baru berkibar dinegeri ini, yang pada saat itu tidak ada seorang pun yang berani bertindak bahkan bicara pun sangat sulit dilakukan, namun apa yang dilakuakan mahasiswa pada saat itu guna menstabilkan kembali stabilitas politik yang sampai saat ini termaktub dalam pembukaan UUD 1945 sebagai cita-cita dan pandangan bangsa indonesia? Apakah mereka diam dan hanya menyaksikan dari tirai dinding yang jauh?? Ataukah mereka hanya mengangguk dan setuju pada setiap keputusan dan kebijakan yang dibuat pemerintah?? Jawabannya adalah TIDAK. Tidak untuk diam, tidak untuk terpaku dan mengalah pada keadaan yang seharusnya mereka perjuangkan dalam membangun bangsa dan untuk rakyat yang telah membesarakan nama dan jiwa mereka dimasyarakat.

Tidak mudah dan sangat mustahil bangsa ini akan maju dan berkembang tanpa ada peran andil dan keikutsertaan masyarakat khususnya mahasiswa dalam membangun bangsa, semua cita-cita dan tujuan mustahil dapat terlaksana apabila antar mahasiswa itu sendiri tidak bersatu atau bahkan terpecah belah, disinilah kepemimpinan mahasiswa harus dilatih, dikembangkan dan dipraktekan. Tanpa teori mengenai kepimimpinan maka praktek pun tidak akan berjalan, dan sebaliknya praktek tanpa teori kepemimpinan tidak akan berarti dan sia-sia karena segala tingkah laku dan perbuatan tidak sesuai dengan norma yang ada dimasyarakat, disinilah makna dari pentingnya sebuah manajemen kepemimpinan mahasiswa dalam membangun bangsa yang madani.

Namun permasalahan saat ini adalah, apakah kita sebagai mahasiswa bisa dan mampu menjadi pemimpin masa depan yang ideal, yang memiliki pandangan jauh kedepan dan memiliki idealisme dalam membangun bangsa?? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing, sejauh mana kita telah membangun kepemimpinan yang ada pada diri kita dan memaksimalkan semua potensi yang ada, semua itu akan kembali kepada pribadi kita masing-masing dan menjadi motivasi yang akan membangun kepemimpinan mahasiswa dalam jiwa dan raga mahasiswa itu sendiri karena yang akan menjalankan semua itu adalah kita sendiri, bukan tugas seorang dosen, orangtua atau bahkan pemerintah. Semua itu adalah tugas yang harus ditempuh kita sebagai mahasiswa dalam membangun dan memimpin bangsa dimasa yang akan datang.

HIDUP MAHASIWA, HIDUP RAKYAT INDONESIA…!!

Jaman Kebangkitan NKRI: Membangun Negara Bahari Oleh: Lalu Usman Ali


 Visi masa depan Indonesia adalah berdaulat dalam bidang politik, berkeperibadian dalam bidang kebudayaan dan mandiri dalam bidang ekonomi. Terwujudnya visi masa depan atau cita-cita kebangsaan tersebut bermuara pada keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat. Potensi besar negara Indonesia adalah Negara maritim kepulauan yang memiliki berbagai sumber hayati kelautan dan perikanan yang sangat besar dan beragam. Data BPS tahun 2009 (dalam Subianto., 2010: 26) bahwa Indonesia terangkai oleh 17.480-an pulau, terdiri dari kawasan pesisir dan lautan dengan panjang garis pantai 95.181 km yang terbentang dari sabang sampai merauke. Panjang garis pantai Indonesia adalah yang terpanjang keempat di dunia, setelah Amerika Serikat, Kanada, dan Rusia. Hampir tiga perempat luas wilayah Indonesia berupa laut dengan perkiraan luas total laut mencapai 7,9 juta km2 atau 790 juta hektar termasuk daerah Zona Ekonomi Ekslusif.
            Dengan beragam potensi dan sistem pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang optimal sepatutnya Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat dan mandiri dalam pangan yang berasal dari ikan dan hasil laut lainnya. Bahkan, sangat terbuka menjadi eksportir utama ikan dan produk perikanan lainnya sehingga penduduk yang bermata pencaharian nelayan seharusnya makmur dan maju.
            Sejarah telah membuktikan bahwa jalur politik negara dalam menjalankan roda pemerintahan (Orde lama dan reformasi) yang meninggal potensi maritim di negara ini membuat ketidakstabilan ketahanan negara baik bidang politik, kebudayaan, dan ekonomi. Maka sudah semestinyalah menjalankan roda pemerintahan ini dengan memanfaatkan potensi maritim Indonesia namun bukan mengekploitasi maritim.
Kesadaran generasi tentang negara bahari yang penting untuk dikembangkan di NKRI dibutuhkan demi masa depan bangsa. Negara bahari sebagai jalan perkuat pertahanan ekonomi dan ketahanan nasional merupakan langkah strategis. Hal ini bisa dilakukan dengan menjalankan atau menghidupkan pelabuhan-pelabuhan dipulau-pulau sehingga roda ekonomi berjalan dan pastinya ketahanan daerah di wadah NKRI juga semakin kuat. Adapun manfaat berkembangnya negara bahari sebagai berikut.
Pertama, pemerataan ekonomi; dengan konsep negara bahari akan menjadikan ekonomi antar daerah merata, hal ini disebabkan karena distribusi sumber daya alam (SDA) akan semakin lancar dari pusat ke daerah, dan antar daerah. Potensi di Indonesia dengan keberagamannya akan memberikan situasi dan fungsi yang saling mengisi antardaerah.
Kedua, persatuan dan kesatuan bangsa; pengenalan, pengetahuan, memahami budaya antar daerah oleh warga daerah lain yang ada di Indonesia akan memberikan nilai positif, yaitu membentuk karakter kebangsaan. Karakter kebangsaan dengan dasar sikap toleransi dan gotong royong inilah yang akan menyebabkan persatuan dan kesatuan terwujud dan akan selalu hidup di warga negara Indonesia.
Ketiga, meningkatkan pertahanan bangsa dari dalam dan luar negara; pemahaman terhadap keberagaman dengan distribusi informasi kebudayaan memberikan kesadaran untuk mempertahankan bangsanya sendiri, baik dari rongrongan dalam ataupun luar yaitu asing. Warga negara mempunyai kesadaran dalam mempertahankan negaranya, sehingga warga negara tidak berpikir dalam mempertahankan negara hanya merupakan tanggungjawab TNI (AD, AU, dan lebih penting lagi AL) dan POLRI, namun mempertahankan negara merupakan tanggungjawab bersama.
Keempat, menghentikan eksploitasi laut oleh negara asing; potensi laut Indonesia saat ini hanya dimanfaatkan dan dikeruk oleh pihak asing atau kepentingan asing, maka oleh sebab itu dengan meperkuat ketahanan maritim Indonesia semua pihak yang mengkeruk kekayaan Indonesia itu akan bisa kita hentikan.